Selasa, 24 Januari 2012

Pacaran / Zina Menyebabkan Melarat

Zina Membuat Orang Miskin
Seorang pria lulusan salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya yang tinggal di Sidoarjo sebutlah Doni (nama samaran), terjebak hutang senilai 200 juta, bukan hanya itu dia juga harus mengangsur hutang di bank tempat ia berhutang dengan jaminan serttifikat tanah dan rumah mertuanya. Pria ini berusia sekitar 32 tahun, sepuluh tahun yang lalu ia memulai usaha penjualan komputer berikut perangkat dan perlengkapannya, diawal berdirinya usaha tersebut ia mengalami kejayaan namun itu tidak lama hanya sekitar tiga tahun dari 2000 sd 2003, dipertengahan 2003 usahanya mengalami kemunduran.
Dan dari tahun 2003 sampai 2009 usaha pria ini terus melorot dan terakhir tutup bangkrut tahun 2009 dengan menyisakan utang 200 juta, dan sejak saat itu dunia seperti tidak memberinya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, ia istri dan kedua anaknya semua hidup dari belas kasih mertuanya yang janda dan istri seorang pensiunan.
Hidup yang tergambar cukup berat, tapi yang kita pahami dalam sudut pandang agama kita (Islam), bahwa semua musibah adalah berasal dari perbuatan manusia itu sendiri:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)
Maka pertemuan penulis dengan pria malang yang mencoba mencari solusi sebenarnya bukan benar-benar memberi solusi, karena solusi hakekatnya dari Allah dan seberapa kesungguhan seseorang mendapatkannya. Maka yang perlu dilakukan pertama kali bukanlah mencari solusi, tetapi mencari sumber masalah, kenapa dan apa sebabnya hingga Allah menimpakan musibah seperti itu?
Dan dalam etika kita sebagai manusia yang lemah dan banyak dosa ini tentunya jangan terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa kita sedang diuji karena kalau kita salah masuk pintu maslah kita tidak akan selesai, pintu ujian hanya “sabar”:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2: 155)
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2:153)
Jika orang yang di uji bersabar, hanya sabar, ujian itu akan berlalu dan ia akan dinaikkan derajat. Yang gawat adalah bagaimana kalau musibah itu ternyata azab atau peringatan padahal azab itu pintunya dua “Taubat dan Sabar”, pintu pertama harus taubat baru kemudian bersabar, jika hanya bersabar masalah kita dijamin tidak selesai, karena kita salah masuk pintu. Ya.. seperti orang yang tidak bisa membaca sms dari Allah, tidak memahami maksud datangnya musibah, maka supaya paham perlu dikirim musibah yang berikutnya.
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. 46:24-25)
Karena itu proses perjalanan membayar utang dan keluar dari masalah-masalah yang lain adalah perjalanan mencari apa dosa kita, berikutnya bertaubat baru kemudian solusi akan tergambar.
Baiklah kembali ke pria tadi, setelah itu percakapan kami mengarah pada apa dosa yang kira kira pernah dilakukan, karena ia mengatakan bahwa ia sudah menikah ditahun 1999 maka penulis kemudian berfikir berarti ia menikah diusia 21 tahun, usia yang cukup muda untuk anak kota, maka pertanyaan berikutnya kenapa menikah diusia begitu muda, apakah kemauan orang tua atau kecelakaan (bahasa untuk menunjukkan hamil diluar nikah), singkat cerita dia mengatakan “waktu pacaran saya dan istri saya ini memang kelewat batas, tapi tidak sampai hamil”. Nah...
Nah, selesai sudah tahap pertama, kita jadi tau bahwa inilah kira-kira sumber masalahnya, bukan ditipu pelanggan, bukan dikhianati teman atau yang lainnya itu semua hanya sarana, masalahnya adalah dosa kita, ya.. dosa kita sendiri dan dalam hal ini dosa itu adalah zina..
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (QS. Al Furqan: 68-69)
Setelah mesin diagnosa menemukan apa penyebab musibah itu menimpa seseorang, selanjutnya adalah mengarahkan orang tersebut untuk menuju pintu pertama yaitu taubat, inilah perbedaan dari kebiasaan manusia pada umumnya yang mencari solusi sebelum bertemu sebab masalahnya, mencari kerja kemana-mana, pinjam uang sana-sini percuma karena mereka belum masuk pintu pertama.. pintu taubat. Allah berfirman:
 “maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh:10-12)
Inilah solusinya, dalam konteks usaha, jika seseorang sudah diampuni oleh Allah  maka ia akan mendapat hujan yang lebat, artinya rizki yang banyak, membanyakkan harta artinya usahanya memberi keuntungan yang besar, mengadakan kebun-kebun artinya tempat usaha dan mengadakan sungai-sungai adalah menyiapkan juga para pelanggannya.
Setelah sadar akan dosa-dosa kemudian berniat untuk bertaubat, seseorang harus banyak beristighfar kepada Allah, menyesali dosanya, tidak mengulanginya, keluar dari pergaulan yang bisa mengembalikan pada dosanya yang lama, menambah ilmu dan mengganti keburukan dengan amal yang baik-baik.
Dalam kisah yang ada dihadapan kita ini pria beserta istrinya tersebut kemudian berusaha membenahi hidupnya dan subhanallah ayat-ayat Allah ini terbukti benar setelah mereka secara rutin memohon ampun kepada Allah dibantu dengan zikir syayidul Istighfar setiap hari, menjalani syarat-syarat taubat dengan benar ternyata satu minggu kemudian gejala perbaikan hidupnya mulai nampak, solusi seolah-olah sudah dekat, solusi yang dinanti, dicari, direbut dalam 9 tahun hampir didapat setelah satu minggu mensucikan diri dengan bertaubat.
Sepertinya tidak ada hubungannya antara memperbaiki ibadah (seperti sholat, menambahnya dengan sholat sunnah, berusaha tepat waktu, banyak mohon ampun, berdzikir dan menghadiri pengajian-pengajian) dengan perbaikan hidup, nyatanya ada. Siang itu jam satu siang pria ini menelpon ketika penulis berada di tempat foto copi memberi kabar baik bahwa tanahnya dikampung didaerah Mojoagung ke barat dibeli orang dan kini ditangannya ada uang 50 juta. Masya Allah dalam satu minggu seperempat masalahnya selesai (ada 50 juta dari 200 juta yang dibutuhkan) padahal tanah itu tidak laku dijual selama 6 tahun.
 “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Huud: 52)
Allah memang tidak pernah ingkar janji. Jadi jangan terlalu percaya diri merasa musibah adalah ujian, periksa dulu jangan-jangan itu peringatan atau bahkan azab, kemudian bertaubatlah dari segala khilaf dimasa lalu, ganti dengan amal yang baik.
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisa’:17)
Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk meneliti kekurangan dan memperbaikinya. Khoiri, Mojokerto 2012. (0321-6104517)

Minggu, 22 Januari 2012

Sengsara Membawa Nikmat

Sengsara Membawa Nikmat; BALASAN YANG DIHIMPUN
(Kisah Nyata Pemuda Miskin Terpaksa Kaya)
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS. At Taghobun 64:7)
Lahir dikeluarga miskin memang berat alias susah, lebih susah lagi kalau mendapat warisan kemiskinan. Itulah yang dialami oleh Nurkholis muda (yang kemudian kita kenal dengan pak Nur), dengan sembilan adik yang ditinggal mati kedua orang tuanya dan setumpuk hutang yang tidak diketahui bagaimana cara melunasinya, pemuda asli Gresik yang tinggal di Surabaya utara Kec. Kenjeran ini menjalani kehidupannya, pontang-panting menjadi kakak tertua yang berjuang demi bisa melihat adiknya makan, apapun dilakoninya asalkan halal.
Waktu itu pekerjaan yang ditekuninya adalah menjadi wartawan hiburan di koran Surabaya Post, demi dapat menyetor tulisan lebih banyak ia jug menulis artikel dibeberapa koran dan majalah lain, beruntung dia dengan pekerjaan ini ia bisa bertemu dengan banyak artis seperti Rita Sugiarto, Mansur S, Idalaila, Roma Irama dan artis-artis terkenal zaman itu. Tapi jangan dianggap ia bahagia dengan profesinya karena ia adalah pemuda yang lahir dari lingkungan kental ajaran agama, baginya profesi ini cukup menyusahkan karena cukup rentan dengan maksiat.
Penghasilannya tentu tidak cukup untuk menghidupi adik-adiknya apalagi harus menangsur hutang almarhum orang tuanya. Setiap ada orang yang datang menagih hutang ia selalu menjawab, “Sabarlah pak, hutang itu akan saya bayar tapi saya tidak berani janji kapan saya bisa membayarnya.” Kicauan rutin, lagu merdu harian, dan kehidupan ini sudah jadi “sego jangan”, menu masalah yang harus dihadapi setiap hari selama 15 tahun.
Bersyukur masih ada perempuan yang mau kecemplung dikubangan susah bersamanya, iapun kemudian menikah agar masih tetap diakui sebagai umat Rosulullah. Khan Rosulullah SAW bersabda;
“Nikah itu sunnahkuh barang siapa yang tidak mau menikah maka ia bukan umatku.” Hadits ini sangat terkenal dimusim nikah, eh maaf musim punya hajat.
Hingga suatu hari, setelah sekian lama meringis dalam duka dan kemiskinan yang tidak diketahui kapan akan berakhir, tiba-tiba atasannya di Surabaya Post memanggilnya dan memberi berita gembira; siang itu (saya lupa kapan hari, tanggal, bulan dan tahunnya) bos berkata:
“Nur maukah kamu naik Haji?”
Seperti mimpi disiang hari, “apa pak” mas Nur meyakinkan,
“Naik Haji,” kata bos, “tapi jangan jawab sekarang, kamu ngomong dulu sama istrimu”
“ya pak” pak Nur segera pamit pulang, dan dengan bergegas ia menemui istrinya didapur yang sedang menggoreng tempe (karena memang tempe makanan hemat biaya dan belum punya yang lain untuk digoreng).
“dik.. saya ditawari naik Haji”, kata mas Nur dengan nada riang, tapi istrinya tidak menjawab, dan hanya melihatnya sebentar lalu membolak-balik tempe agar tidak gosong, mungkin dikira orang ngelindur (mengigau),
Malam pun tiba, selepas isya’ pulang sholat jamaah dirumah kontrakan yang amburadul, istrinya bertanya; ”mas, yang sampean sampaikan tadi siang itu bener ta?
“benar, bagaimana nurut sampean dik?” tanya mas Nur.
“baiknya istikharoh dulu, dan jangan diceritakan siapa-siapa, sebab kalau batal malu kita, dikira kita orang yang sombong, wong miskin aja mimpi naik Haji” kata istrinya.
Setelah berunding dan minta petunjuk kepada Allah, maka keluarga yang belum punya anak itupun menyatakan setuju pada bosnya, dan bosnya tepat janji sehingga mas Nur benar-benar pergi Haji.
Pagi-pagi setelah jamaah subuh ia berpamitan pada para tetangga bahwa hari itu ia akan pergi haji, semua orang terkejut dan ditengah tengah keterkejutan itu ada tetangga yang berasal dari Madura bertanya; “ke asrama haji naik apa?, tanyanya
“Gampang pak, khan banyak mobil,” jawab mas Nur, “oh ya sudah kalau gitu” kata tetangga baik hati itu. Tak lama kemudian setelah pulang dari masjid tetangga Madura itu datang lagi, “jadi naik apa ke asrama Haji” tanyanya,
“naik line WB pak, langsung turun depan asrama haji” jawab mas Nur,
“lho jangan nanti saya antar, wong naik haji kok naik line, gimana sampean ini” Madura tidak terima
Diantarlah mas Nur tokoh kita ini, dan singkat cerita tetangga itupun pamit pulang, mas Nur yang disakunya hanya ada uang sepuluh ribu baru sadar, “gimana saya ini masak Haji Cuma bawa uang Rp. 10.000,-, bagaimana nanti disana, sejurus kemudian datanglah wartawan Surabaya Post temannya mengantar amplop, dalam hatinya ia berkata gembira “mungkin ini uang”, setelah diraba ternyata tipis, “wah bukan uang, mungkin cek, tapi kalau cek kapan saya bisa menukar, sudah tidak ada waktu” dia bimbang. Ditengah kebingungannya iapun merobek amplop dengan hati-hati, “hah dolar” ternyata isinya selembar uang dolar yang nilainya sama  dengan biaya naik haji (artinya ia punya banyak uang sekarang) puluhan juta.
Singkat cerita iapun ada dipesawat bersebelahan dengan salah satu anggota dewan dari salah satu parpol berkuasa zaman ORBA, dan setelah lama berbincang entah kenapa tiba-tiba orang itu mengatakan pada mas Nur, “Nur ambillah salah satu amplop yang kau suka dari koper ini, ini hadiah dari para pejabat” kata teman baru dalam pesawat, sambil berpaling membelakangi koper agar tidak terkesan memilih (padahal meraba yang tebal juga), ia mengambil satu amplop yang setelah dibuka isinya 2 juta (ini di tahun 1990 lho), benar firman Allah;
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah:245)
Mas Nur telah memberi pinjaman yang baik dengan membayar hutang orang tuanya, menanggung biaya hidup 9 adiknya. Dan Allah kemudian membayarnya dengan kelipatan yang banyak.
Kisah ini belum selesai, di tanah suci saat itu terjadi peristiwa runtuhnya terowongan Mina (masih saya konfirmasi kepada beliau bagaimana kisah detailnya), naluri dan pena nya sebagai seorang wartawan mulai bekerja, iapun menulis dan dikiraim berita itu ketanah air, ia banyak mendapat fee (gaji) dari tulisannya yang berharga dan tidak hanya itu kumpulan kisah tentang runtuhnya terowongan mina juga diterbitkan oleh penerbit Mizan. Dan sepulang dari tanah suci ditanah air tepatnya di daerah JL. Platuk Kec. Kenjeran ia telah dirubah setatusnya dari orang yang memberi pinjaman menjadi orang yang dibalas pinjaman. Dari orang yang kekurangan dan dililit utang menjadi orang yang mampu membayar utang dan hidup berkecukupan. Dan kini beliau menjadi Kepala Dinas Pendidikan di Surabaya. Disamping itu keahlian menulisnya terus diasah dan banyak buku yang telah terlahir dari ujung tangannya.
Allah membayar Pak Nur dengan bayaran yang dihimpun jadi satu, semua kebaikannya ditabung untuk kemudian diberikan dalam satu waktu yang tepat menurut Allah. Innallaha laa yukhliful mii’aad.
Khoiri, Mojokerto, 2012 (0321-6104517)

Yang Baik Pasti Dimuliakan

YANG BAIK PASTI DIMULIAKAN
Beli Pisau Dapur Dapat Kembalian Uang 200 Juta
“mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS. Al Mukminun:61)
“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. As Syuro:23)
Menjadi pengurus Panti Asuhan Yatim yang jujur adalah perbuatan mulia, dan sangat dekat dengan Rosulullah SAW, beliau bersabda:
“Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini.” (HR. Bukhari)
Apalagi menjadi pengurus Panti di Negara kita tercinta ini, masyarakat Islam seolah-olah masih beranggapan bahwa anak-anak yang tinggal dipanti asuhan itu hanya butuh makan pada waktu bulan Romadlon dan Hari Raya saja, bagaimana tidak, lha wong umat Islam baru banyak yang nyumbang ke PAY hanya di dua momentum itu, diluar kedua momentum itu penguruslah yang harus pontang-panting mencarikan mereka makan, minum, kebutuhan sekolah, seragam, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Inilah yang dialami aba Ratno, susah payah, pahit getir menjadi pengurus panti sudah dilakoninya sejak 20 tahun yang lalu. Harus mendatangi sekolah bila diakhir waktu pembayaran PAY masih belum bisa melunasi SPP, harus menjatuhkan harga diri bila harus hadir mengambil uang dari donatur, dan makin berat rasanya mendengar suara-suara lirih anak-anak yang meminta sabun, sikat gigi, odol, detergen ditambah kebutuhan asuhan panti putri.
Namun semua itu dijalaninya dengan sabar, mungkin orang-orang berfikir “untuk apa repot-repot ngurusi anaknya orang, masih banyak jalan ibadah yang lain” lalu ... P Ratno mungkin juga berfikir “siapa yang ngurusi mereka kalau bukan kita, apa rela kalau diurusi oleh mereka yang beda aqidah”.
Berangkat dari keluarga bermasalah, anak-anak itu tentu memerlukan perhatian lebih, ya.. dipanggil kepala sekolah, dilabrak tetangga seputar kenakalan anak-anak itu sudah menu selingan dalam hidup P Ratno. Apalagi masyarakat punya standart khusus untuk anak-anak melas itu, mereka harus nurut, harus sopan, harus ini dan itu. Dan masih banyak lagi item-item yang masih harus dicentang untuk membeberkan banyaknya masalah dari anak-anak yang kurang beruntung itu.
Tapi lagi-lagi mengasuh anak panti itu amal sholeh.
“tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al Baqarah:220)
Dan Allah Pasti akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik:
“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.” (QS. An Naml:89)
Dan, kemudian ditahun 2007 P Ratno pergi Haji bersama Istrinya, beliau berdua adalah pensiunan Pegawai Negeri. Keduanya harus menabung cukup lama untuk bisa ketanah suci. Rupanya balasan Allah diberikan saat itu.
Kisahnya, pada waktu selesai waktu-waktu ibadah Haji dua hamba Allah yang sudah tua ini berjalan jalan dipasar di tanah suci mencari sekedar oleh-oleh untuk dibawa pulang, kemudian mereka membeli pisau dapur dan ketika itu penjual memberikan kembalian, dan mengatakan “halal..halal..halal” sambil mendorong uang kertas kembalian tersebut, maka dibawalah pisau dapur itu ketanah air.
Setelah pulang, satu minggu kemudian setelah tamu-tamu yang mengucapkan selamat mulai agak sepi uang itupun dihitung dan ditukarkan ternyata nilainya cukup besar 3 juta rupiah. Setelah satu minggu uang itu diam, ternyata sepulang menghadiri pengajian ada orang yang menawarkan tanah sawah seharga tiga juta yang lokasinya dekat jalan raya antara Mojokerto dengan Jombang, dan satu bulan setelah itu ada orang yang mencari tanah untuk digunakan sebagai pom bensin, dan akhirnya dibelilah tanah itu dengan harga 200 juta rupiah. masyaAllah, uang receh kembalian dari pisau dapur ditanah suci kini telah berubah menjadi uang Rp. 200.000.000,- dan menurut informasi terkini uang itu kemudian digunakan untuk membangun ruko didaerah Kota Mojokerto Prajurit Kulon dan sudah ditawar 700 juta.
Kiranya dari situ nanti mudah-mudahan anak-anak panti itu ikut menikmati limpahan berkah dari Allah tersebut. Kisah nyata ini disampaikan oleh pelaku saat makan berdua di Ayam Panggang Wong Solo Puri Mojokerto. 
Khoiri, Mojokerto, 2112 (0321-6104517)

Yang Menolong Pasti Ditolong

Yang Menolong, Pasti Ditolong
Perjalanan ke SD Pulolanting memberi kisah tersendiri bagi H. Ma’ruf, pria asli Yogya yang tinggal di Jombang ini. Datang ke Kalimantan tanpa ada saudara maupun kenalan, hanya karena berniat ingin jadi guru setelah membaca disurat kabar bahwa disalah satu daerah di Nusantara ini ada SD yang tidak ada guru yang bisa mengajar disana, kini ia tidak habis pikir kenapa dulu bisa bersikeras datang ke Kalimantan. Tapi ini sudah jadi kisah, kisah yang membuktikan bahwa siapa yang menolong pasti ditolong Allah.
“...Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Al Hajj:40)
Dikampung ia dikenal sebagai orang yang ringan tangan, menjadi seksi sibuk saat ada pengajian, selalu direpoti saat ada orang punya hajat, dan itulah yang special dari H. Ma’ruf kala itu. Kebiasaannya ini suatu saat dibalas oleh Allah disaat ia membutuhkannya.
Saat itu ditahun 1970 (wah dulu banget), berangkatlah dengan bekal secukupnya menuju Kalimantan hingga disuatu tempat H. Ma’ruf muda kala itu (belum Haji, masih mas Ma’ruf) kehabisan bekal dan ongkos, setelah minta tolong kesana kemari akhirnya ia disarankan untuk datang kerumah H. Ahmad salah seorang pengurus organisasi besar berlambang matahari (pertolongan pertama dari Allah) dicarinya rumah yang dimaksud ditempuh dengan jalan kaki hingga akhirnya pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang membaca surat kabar ABADI, ia pun segera memperkenalkan diri ddan menceritakan keadaannya sekarang, tidak punya bekal, jauh dari tempat yang dituju dan tidak punya siapa-siapa di situ.
H. Ahmad menyambutnya dengan baik dan dirumah itu mas Ma’ruf bisa makan minum dan tinggal untuk sementara waktu. (Ini pertolongan kedua dari Allah) Perjalanan ke SD Pulolanting masih sehari semalam naik kapal dan itu sangat jauh masih harus melewati dua danau, danau Jempang dan Danau Lemayang. Namun itu tidak menyrutkan niatnya untuk menjadi guru di SD Pulolanting. Bertanya ke H. Ahmad, bagaimana cara agar bisa ke tempat yang dituju. Akhirnya H. Ahmad menulis sebuah surat dan dikatakan kepada mas Ma’ruf, “temuilah H. Idris Kepala KUA Muara Muntai, sampaikan salam dari saya, dan kalau nanti petugas kapal bertanya katakan bahwa kamu akan kerumah H. Idris dan akan saya bayar ketika saya sudah disana”.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan diberi bekal oleh H. Ahmad sekiranya cukup untuk perjalanan ke Muara Muntai. Sesampai disana ternyata benar, ongkos kapal itu dibayar oleh H. Idris (pertolongan Allah yang ketiga), disambut dengan hangat oleh orang yang belum pernah dikenal sebelumnya, setelah memperkenalkan diri mas Ma’ruf muda menyampaikan maksud kedatangannya, ingin jadi guru di pedalaman. MasyaAllah kaget betul mas Ma’ruf ternyata SD yang dituju sudah bubar (mungkin akang-akang bertanya kenapa tidak telepon dulu, kang kala itu jarang orang yang punya telepon, apalagi telepon genggam). “Tapi akan saya bantu”, kata H. Idris untuk mengumpulkan kembali para wali murid dan dinas terkait supaya SD itu didirikan kembali.
Tapi tujuan baik itu tidak diabaikan oleh Allah, sambil menunggu respon masyarakat terhadap upaya didirikannya kembali SD Pulolanting, ms Ma’ruf diminta H. Fadli salah satu pengurus Muhammadiyah disana untuk mengajar di SMP Muhammadiyah dan sorenya bisa bantu beliau jaga toko dan dari sinilah kemudian mas Ma’ruf punya penghasilan untuk menyambung hidup. (pertolongan ke empat).
Singkat cerita SD Pulolanting sepakat didirikan kembali dan subhanallah, salah satu siswanya adalah anak Gubernur Wahab Syahrani, mulai Pak Ma’ruf (panggilan sesudah jadi guru) mengajar dengan gaji yang tidak cukup untuk makan. Ditengah kesulitan yang menghimpitnya Allah memeberinya ilham, bersama murid-muridnya P Ma’ruf  membuat kisah yang di tonel-kan (semacam mamanda/drama/ludruk di Jawa) ternyata ditempat itu pertunjukan seperti ini sangat diminati sehingga P. Ma’ruf memutuskan untuk membuat kisah bersambung tiga malam disebuah gedung milik pemerintah, subhanallah diluar dugaan pengunjungnya sangat banyak, pertunjukan ini kemudian dikarciskan dan dalam waktu yang tidak lama P. Ma’ruf dan murid-muridnya menjadi orang-orang yang banyak uang (pertolongan Allah ke lima). Memang orang yang berhijrah di jalan Allah akan diberi rizki yang melimpah:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’:100)
Dan jangan terkejut, dengan kegiatan yang dianggap membantu dunia pendidikan, suatu kreatifitas yang menghibur masyarakat dan juga mendidik ini didengar dan direspon oleh orang no 1 di RI, ya... Presiden Soeharto berkenan berkunjung kesana untuk melihat pertunjukan itu, Presiden RI saat itu mengaku bangga, Gubernur Wahab Syahrani sangat senang dan sebagai ucapan terima kasih kepada P. Ma’ruf ia diangkat menjadi PNS, (pertolongan Allah yang ke enam) dan dalam waktu singkat P. Makruf sipenata kursi pengajian dikampungnya, penjemput kyai, seksi sibuk untuk para tetangga yang punya hajat, pengantar orang ke RS, dan masih banyak lagi jabatan tanpa gaji lainnya, kini telah menjadi orang penting di Pulolanting. Bayangkan Presiden RI, orang no 1 di Republik ini bukan mengundang ke Istana tapi datang melihat langsung buah ciptanya.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad:7)
Wahai saudar-saudaraku yang kini beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah untuk menolong agamanya, hamba-hambanya, makhluk-makhluknya, walaupun itu kadang menysahkan, merepotkan, mengganggu, menghabiskan waktu, ketahuilah bahwa semua itu disaksikan oleh Allah dan pasti akan dibalas dengan balasan yang lebih baik.
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. Muzammil:20)
Khoiri, Mojokerto,2112 (0321-6104517)

Senin, 16 Januari 2012

YANG DIAMBIL PASTI DIGANTI

Satu Juta Dapat Rumah
Bila Ada Yang Diambil, Maka Pasti Akan Di Ganti
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkannya.
Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi saw. dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw. bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata: "Hanya sekian tawaran tuan?" Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan dengan Nabi saw. itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai milikku?" Rasulullah menjawab: "Ya." Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma itu berkata: "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad saw. menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu: "Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab: "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memnuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi: "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata: "Aku inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi: "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan." Maka berangkatlah Rasulullah saw. kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda: "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu." Maka turunlah ayat ini (S.92:1-akhir surat) yang membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dan yang lainnya dari al-Hakam bin Abban dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Ada orang yang rela menukarkan hartanya dengan surga, ada juga orang yang menukarkan surganya demi harta. Dari enam bersaudara 3 laki-laki dan tiga perempuan, bapak Darno (nama samaran), warga Kec. Krembung, Kab. Sidoarjo termasuk orang yang berusaha menukar harta dengan syurga. Siang itu tahun 1997 berkumpullah enam saudara dalam satu rumah peninggalan orang tua mereka yang saat itu ditempati saudara perempuan no 3 karena yang lain sudah bisa bikin rumah sementara saudara perempuan yang menempati rumah tersebut belum beruntung sebagaimana saudara-saudaranya yang lain. Dalam diskusi itu disepakati bahwa tiap anggota keluarga mendapat ganti dari rumah yang ditempati itu masing-masing sebesar 5 juta untuk saudara laki-laki dan 2,5 juta untuk saudara perempuan. Merasa tidak adil adik perempuan yang terakhir minta ganti 6,5 karena ia merasa dari sekian banyak saudara yang lain sebagai anak terakhir (kebiasaan di Jawa) ia yang semestinya paling berhak menempati rumah itu.
Perdebatan sengitpun terjadi dan tidak diperoleh jalan keluar, sehingga akhirnya bapak Darno mengalah memberikan 4 juta dari haknya untuk melengkapi 6,5 yang diinginkan oleh oleh Asmi adik terakhirnya. Inilah gambaran dari riwayat Rosulullah tadi ada yang menginginkan lebih banyak dunia, dan ada yang mengalah memberikan dunia untuk mendapat akhirat. Akhirnya disepakati dan satu minggu kemudian bapak Darno hanya mendapatkan satu juta dari lima juta seharusnya.
Tapi rumus kehidupan ini berlaku, kali ini Allah berkehendak memampangkan Al Qur’an surat Al An’am ayat 160:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”
Setelah diberikan uang satu juta itu, dijalan ia bertemu dengan seseorang yang berniat menjual tanahnya yang lurus dengan jalan kuburan, tanah itu sebenarnya sudah lama berniat dijual hanya saja tidak ada yang berani membeli karena tanah itu lurus dengan jalan menuju kuburan (maklum kepercayaan orang kejawen) dan dikenal angker, banyak orang yang tiba-tiba gatal-gatal setelah masuk tanah itu, ada yang “ngame” (bicara sendiri), Kesurupan dan banyak lagi cerita-cerita mistik yang dihubungkan dengan tanah tersebut. Setelah ditanya berapa ia akan jual tanah tersebut, ternyata sungguh diluar dugaan tanah yang lebarnya 21 M dan Panjang 85 M hanya dijual 1 juta. Tanpa ada penawaran jual belipun dilakukan dan tanah itu pun jadi milik pak Darno. Setelah pekarangan itu dibersihkan pohon-pohon besar ditebangi, tanaman-tanaman dirapikan, dua bulan kemudian datanglah pengusaha dari Surabaya mencari tanah untuk usaha penjualan kayu, dan MasyaAllah, tanah itu ditawar juta.
Setelah disepakati, jual beli dilakukan dan uang tunai 20 juta diterima, tapi kisah ini belum selesai, setelah itu P Darno ditawari rumah yang di Desa Jasem sekitar 7 KM kearah timur dari Mojosari singkat cerita rumah itupun dibeli, dan sebagaimana kisah tanah yang dijual sebelumnya, rumah itu dibersihkan dan belum lagi sempat ditempati rumah itu ditawar orang yang akan menjadikan rumah itu toko untuk menjual air mineral, dan ... benar dugaan anda semua rumah itu dibeli 40 juta Rupiah. Maka benarlah, firman Allah siapa yang datang membawa satu Allah membalasnya dengan 10 kali lipat, uang 4 juta yang diambil adik terakhir dan diberikan P Darno demi membantu kakak perempuannya kini telah diganti oleh Allah dengan Rp. 40.000.000,-.
Jangan khawatir saudara-saudaraku bila anda muslim kemudian ada harta anda yang diambil secara paksa ataupun sukarela, maka Allah akan menggati dengan balasan yang lebih banyak.
Namun kadang-kadang yang diambil bukan harta tapi yang lain, seperti yang dialami jama’ah pengajian ibu ibu di daerah Jembatan Merah ketimur, tanpa sebab yang jelas satu dari anaknya yaitu anak yang ketiga dari empat bersaudara terkena gangguan jiwa, namun si ibu tetap merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan ibu yang kini berusia 74 tahun itu saat itu terkena penyakit komplikasi, namun sangat ajaib ibu itu justru menjadi sehat tanpa keluhan apapun setelah salah satu anaknya diuji dengan gangguan jiwa. Selama itu anak perempuannya tinggal bersama ibu tersebut dan kehidupannya disuplai salah satu anaknya yang bekerja dibidang kesehatan. Setelah sekian lama 2 anak dari anak yang selama ini membiayai ibu dan anak yang terganggu jiwanya tersebut masuk kuliah, subsidi untuk mereka berdua dikurangi dan ajaib pula saat jatah rizki dari anak pertamanya tersebut berkurang ternyata anak yang terganggu jiwanya tersebut sembuh dan seolah tidak pernah mengalami gangguan jiwa, benar-benar sempurna seperti sedia kala.
Benarlah kiranya bila ada yang diambil atau dikurangi maka ada yang lain yang ditambah oleh Allah. Hanya apakah kita dapat mengetahui disisi mana kita diberi tambahan.

1 Juta Dapat Rumah

Satu Juta Dapat Rumah
Bila Ada Yang Diambil, Maka Pasti Akan Di Ganti
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkannya.
Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi saw. dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw. bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata: "Hanya sekian tawaran tuan?" Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan dengan Nabi saw. itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai milikku?" Rasulullah menjawab: "Ya." Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma itu berkata: "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad saw. menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu: "Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab: "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memnuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi: "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata: "Aku inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi: "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan." Maka berangkatlah Rasulullah saw. kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda: "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu." Maka turunlah ayat ini (S.92:1-akhir surat) yang membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dan yang lainnya dari al-Hakam bin Abban dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Ada orang yang rela menukarkan hartanya dengan surga, ada juga orang yang menukarkan surganya demi harta. Dari enam bersaudara 3 laki-laki dan tiga perempuan, bapak Darno (nama samaran), warga Kec. Krembung, Kab. Sidoarjo termasuk orang yang berusaha menukar harta dengan syurga. Siang itu tahun 1997 berkumpullah enam saudara dalam satu rumah peninggalan orang tua mereka yang saat itu ditempati saudara perempuan no 3 karena yang lain sudah bisa bikin rumah sementara saudara perempuan yang menempati rumah tersebut belum beruntung sebagaimana saudara-saudaranya yang lain. Dalam diskusi itu disepakati bahwa tiap anggota keluarga mendapat ganti dari rumah yang ditempati itu masing-masing sebesar 5 juta untuk saudara laki-laki dan 2,5 juta untuk saudara perempuan. Merasa tidak adil adik perempuan yang terakhir minta ganti 6,5 karena ia merasa dari sekian banyak saudara yang lain sebagai anak terakhir (kebiasaan di Jawa) ia yang semestinya paling berhak menempati rumah itu.
Perdebatan sengitpun terjadi dan tidak diperoleh jalan keluar, sehingga akhirnya bapak Darno mengalah memberikan 4 juta dari haknya untuk melengkapi 6,5 yang diinginkan oleh oleh Asmi adik terakhirnya. Inilah gambaran dari riwayat Rosulullah tadi ada yang menginginkan lebih banyak dunia, dan ada yang mengalah memberikan dunia untuk mendapat akhirat. Akhirnya disepakati dan satu minggu kemudian bapak Darno hanya mendapatkan satu juta dari lima juta seharusnya.
Tapi rumus kehidupan ini berlaku, kali ini Allah berkehendak memampangkan Al Qur’an surat Al An’am ayat 160:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”
Setelah diberikan uang satu juta itu, dijalan ia bertemu dengan seseorang yang berniat menjual tanahnya yang lurus dengan jalan kuburan, tanah itu sebenarnya sudah lama berniat dijual hanya saja tidak ada yang berani membeli karena tanah itu lurus dengan jalan menuju kuburan (maklum kepercayaan orang kejawen) dan dikenal angker, banyak orang yang tiba-tiba gatal-gatal setelah masuk tanah itu, ada yang “ngame” (bicara sendiri), Kesurupan dan banyak lagi cerita-cerita mistik yang dihubungkan dengan tanah tersebut. Setelah ditanya berapa ia akan jual tanah tersebut, ternyata sungguh diluar dugaan tanah yang lebarnya 21 M dan Panjang 85 M hanya dijual 1 juta. Tanpa ada penawaran jual belipun dilakukan dan tanah itu pun jadi milik pak Darno. Setelah pekarangan itu dibersihkan pohon-pohon besar ditebangi, tanaman-tanaman dirapikan, dua bulan kemudian datanglah pengusaha dari Surabaya mencari tanah untuk usaha penjualan kayu, dan MasyaAllah, tanah itu ditawar juta.
Setelah disepakati, jual beli dilakukan dan uang tunai 20 juta diterima, tapi kisah ini belum selesai, setelah itu P Darno ditawari rumah yang di Desa Jasem sekitar 7 KM kearah timur dari Mojosari singkat cerita rumah itupun dibeli, dan sebagaimana kisah tanah yang dijual sebelumnya, rumah itu dibersihkan dan belum lagi sempat ditempati rumah itu ditawar orang yang akan menjadikan rumah itu toko untuk menjual air mineral, dan ... benar dugaan anda semua rumah itu dibeli 40 juta Rupiah. Maka benarlah, firman Allah siapa yang datang membawa satu Allah membalasnya dengan 10 kali lipat, uang 4 juta yang diambil adik terakhir dan diberikan P Darno demi membantu kakak perempuannya kini telah diganti oleh Allah dengan Rp. 40.000.000,-.
Jangan khawatir saudara-saudaraku bila anda muslim kemudian ada harta anda yang diambil secara paksa ataupun sukarela, maka Allah akan menggati dengan balasan yang lebih banyak.
Namun kadang-kadang yang diambil bukan harta tapi yang lain, seperti yang dialami jama’ah pengajian ibu ibu di daerah Jembatan Merah ketimur, tanpa sebab yang jelas satu dari anaknya yaitu anak yang ketiga dari empat bersaudara terkena gangguan jiwa, namun si ibu tetap merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan ibu yang kini berusia 74 tahun itu saat itu terkena penyakit komplikasi, namun sangat ajaib ibu itu justru menjadi sehat tanpa keluhan apapun setelah salah satu anaknya diuji dengan gangguan jiwa. Selama itu anak perempuannya tinggal bersama ibu tersebut dan kehidupannya disuplai salah satu anaknya yang bekerja dibidang kesehatan. Setelah sekian lama 2 anak dari anak yang selama ini membiayai ibu dan anak yang terganggu jiwanya tersebut masuk kuliah, subsidi untuk mereka berdua dikurangi dan ajaib pula saat jatah rizki dari anak pertamanya tersebut berkurang ternyata anak yang terganggu jiwanya tersebut sembuh dan seolah tidak pernah mengalami gangguan jiwa, benar-benar sempurna seperti sedia kala.
Benarlah kiranya bila ada yang diambil atau dikurangi maka ada yang lain yang ditambah oleh Allah. Hanya apakah kita dapat mengetahui disisi mana kita diberi tambahan. 
Khoiri, Mojokerto, 2012 (0321-6104517)

Beli Pisau Dapur Dapat Kembalian Uang 200 Juta ( Cara Allah Memuliakan Orang Baik)

YANG BAIK PASTI DIMULIAKAN
Beli Pisau Dapur Dapat Kembalian Uang 200 Juta
“mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS. Al Mukminun:61)
“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. As Syuro:23)
Menjadi pengurus Panti Asuhan Yatim yang jujur adalah perbuatan mulia, dan sangat dekat dengan Rosulullah SAW, beliau bersabda:
“Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini.” (HR. Bukhari)
Apalagi menjadi pengurus Panti di Negara kita tercinta ini, masyarakat Islam seolah-olah masih beranggapan bahwa anak-anak yang tinggal dipanti asuhan itu hanya butuh makan pada waktu bulan Romadlon dan Hari Raya saja, bagaimana tidak, lha wong umat Islam baru banyak yang nyumbang ke PAY hanya di dua momentum itu, diluar kedua momentum itu penguruslah yang harus pontang-panting mencarikan mereka makan, minum, kebutuhan sekolah, seragam, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Inilah yang dialami aba Ratno, susah payah, pahit getir menjadi pengurus panti sudah dilakoninya sejak 20 tahun yang lalu. Harus mendatangi sekolah bila diakhir waktu pembayaran PAY masih belum bisa melunasi SPP, harus menjatuhkan harga diri bila harus hadir mengambil uang dari donatur, dan makin berat rasanya mendengar suara-suara lirih anak-anak yang meminta sabun, sikat gigi, odol, detergen ditambah kebutuhan asuhan panti putri.
Namun semua itu dijalaninya dengan sabar, mungkin orang-orang berfikir “untuk apa repot-repot ngurusi anaknya orang, masih banyak jalan ibadah yang lain” lalu ... P Ratno mungkin juga berfikir “siapa yang ngurusi mereka kalau bukan kita, apa rela kalau diurusi oleh mereka yang beda aqidah”.
Berangkat dari keluarga bermasalah, anak-anak itu tentu memerlukan perhatian lebih, ya.. dipanggil kepala sekolah, dilabrak tetangga seputar kenakalan anak-anak itu sudah menu selingan dalam hidup P Ratno. Apalagi masyarakat punya standart khusus untuk anak-anak melas itu, mereka harus nurut, harus sopan, harus ini dan itu. Dan masih banyak lagi item-item yang masih harus dicentang untuk membeberkan banyaknya masalah dari anak-anak yang kurang beruntung itu.
Tapi lagi-lagi mengasuh anak panti itu amal sholeh.
“tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al Baqarah:220)
Dan Allah Pasti akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik:
“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.” (QS. An Naml:89)
Dan, kemudian ditahun 2007 P Ratno pergi Haji bersama Istrinya, beliau berdua adalah pensiunan Pegawai Negeri. Keduanya harus menabung cukup lama untuk bisa ketanah suci. Rupanya balasan Allah diberikan saat itu.
Kisahnya, pada waktu selesai waktu-waktu ibadah Haji dua hamba Allah yang sudah tua ini berjalan jalan dipasar di tanah suci mencari sekedar oleh-oleh untuk dibawa pulang, kemudian mereka membeli pisau dapur dan ketika itu penjual memberikan kembalian, dan mengatakan “halal..halal..halal” sambil mendorong uang kertas kembalian tersebut, maka dibawalah pisau dapur itu ketanah air.
Setelah pulang, satu minggu kemudian setelah tamu-tamu yang mengucapkan selamat mulai agak sepi uang itupun dihitung dan ditukarkan ternyata nilainya cukup besar 3 juta rupiah. Setelah satu minggu uang itu diam, ternyata sepulang menghadiri pengajian ada orang yang menawarkan tanah sawah seharga tiga juta yang lokasinya dekat jalan raya antara Mojokerto dengan Jombang, dan satu bulan setelah itu ada orang yang mencari tanah untuk digunakan sebagai pom bensin, dan akhirnya dibelilah tanah itu dengan harga 200 juta rupiah. masyaAllah, uang receh kembalian dari pisau dapur ditanah suci kini telah berubah menjadi uang Rp. 200.000.000,- dan menurut informasi terkini uang itu kemudian digunakan untuk membangun ruko didaerah Kota Mojokerto Prajurit Kulon dan sudah ditawar 700 juta.
Kiranya dari situ nanti mudah-mudahan anak-anak panti itu ikut menikmati limpahan berkah dari Allah tersebut. Kisah nyata ini disampaikan oleh pelaku saat makan berdua di Ayam Panggang Wong Solo Puri Mojokerto. Khoiri, Mojokerto 2012 (0321-6104517)